Ikhtiar Rejeki

Rejeki
Rejeki memang sesuatu ketentuan yang sudah pasti namun tidak dalam kepastian.

Dimana Yang Kuasa memberikan kesempatan pilihan pada manusia untuk bisa mengubah/merubahnya,untuk bisa menentukan dan menyiapkanya,dengan berbagai caranya masing-masing,yang semua cara tersebut harus bisa dipertanggungjawabkanya.

Maka dari itu Agama dihadirkan untuk tuntunan dan tata caranya,dalam bagaimanapun manusia menjalankan kehidupanya termasuk dalam berikhtiar rejekinya dsb.

Rintangan dan cobaan memang pasti akan selalu ada’namun yang Kuasa juga memang memberikan jalan keluar serta pertolongan untuk setiap seseorang yang selalu bersabar dalam ikhtiar menjalankan kehidupanya.

Sebaliknya penuh pasrah dalam keputus’asaan adalah bentuk ketidakpercayaan akan Kuasa dan Kebesaran’NYA.

Dan tiada satu kesulitan dalam kehidupan setiap seorang hamba’melainkan Allah memberikan dua jalan kemudahan dalam satu kesulitanya.

Dan tidak mungkin satu kesulitan melawan dua kemudahan’.

Ketika urusan semakin sulit yang membimbangkan itu artinya kelapangan akan segera datang,karena yang Kuasa tidak akan menguji diluar kemampuan manusia.

Kecuali untuk membinasakanya,karena mungkin menumpuknya dosa dan enggan untuk bertobat dalam mengharap ampunan dan pertolongan’NYA.

Kategorinya bisa juga seseorang yang berlimpah kekayaan tetapi banyak digunakan untuk kemaksiatan,dan seorang yang kurang sabar dalam kemiskinanya sehingga menyimpang jalan menghamba pada syetan yang menyesatkan dengan melakukan pesugihan dsb.

Dan seseorang yang terlilit hutang besar,lalu hutangnya untuk kemaksiatan serta tidak ada niat mau melunasinya dsb.

Diantara yang tersebut pasti dalam ujung kehidupanya akan disengsarakan dan dicoba sampai akhir hayatnya, kecuali bertobat dan Allah Swt mengampuninya.

Dan itulah ujian cobaan dalam rejeki bagaimana didapatkan,digunakan dan harus bisa dipertanggung jawabkan.

Rejeki itu aneh tapi nyata’kenapa demikian?sebab terkadang rejeki itu tidak masuk akal,diluar nalar dan penuh keajaiban dalam mengusahakanya.

Maupun dalam mendapatkanya juga,jadi persoalan gaib yang manusia tidak mampu mengatur atau menentukanya.

Tetapi harus agar selalu mengikhtiarkanya demi untuk kelangsungan hidup,dan untuk berbekal ibadah sebagai hakekat yang jadi tujuan sebenarnya dalam hidup.

TAKARAN REJEKI
Besar kecilnya rejeki tak bisa dijadikan tolak ukur dalam pemenuhan kebutuhan.

Melainkan tergantung dari faktor keberkahanya’makanya tak heran kadang dalam suatu keluarga hampir semua bekerja banting tulang namun terasa masih kurang juga.

Bahkan punya hutang’sebaliknya seseorang yang bekerja seadanya apa adanya namun selalu dalam kecukupan, jauh dalam kekurangan dan tak punya beban hutang.

Itulah faktor keberkahan yang berperan menentukan akan cukup dan tidaknya,yang jugavjadi cobaan termasuk adanya perkara piutang didalamnya.

Adapun mengenai hutang juga suatu cobaan dalam hidup’yang penting punya niat membayar walau kadang diberi kesusahan untuk membayarnya.

Karena boleh jadi piutang tersebut jadi faktor dipanjangkan umur’nya,sebab Allah Swt memanjangkan umur seseorang yang terlilit hutang yang belum bisa bayar’namun ada niat membayar walau dalam jangka yang lama karena suatu kondisi cobaan rejeki dalam hidupnya.

Asalkan ketika sudah ada dan berlebih harus berniat bayar,sebab ada laknat tiap hari jika mampu tapi menunda’nya.

Sebaliknya bagi yang mengutanginya tentunya sebenarnya dapat pahala yang terus mengalir memudahkan rejeki dalam hal lainya,tetapi terkadang banyak yang kurang menyadari dan menyela.

Sehingga piutang juga jadi ujian dalam sebuah ikatan,baik saudara maupun kawan dsb(adapun mengenai bab ini mungkin bisa dipelajari khusus untuk lebih mengena).

Keberadaan Rejeki
Sesungguhnya rejeki seseorang sebenarnya memang selalu mengiringinya seperti bayangan dirinya’.

Namun seseorang/kita memang terkadang mengalami kesulitan rejekinya karena ketidakyakinanya sendiri pada Sang Pemberi’NYA Allah SWT.

Padahal Allah SWT’ bertanggung jawab terhadap kecukupan rejeki seorang hamba,selagi selalu mau berikhtiar tanpa putus asa dan selalu dalam jalan dan tuntunan’NYA,namun memang kadang kita-kita banyak yang kurang yakin dalam mengikhtiarkanya.

Hakekat Rejeki
Tentunya memang bukan sebatas materi yang terlihat,yang berwujud harta benda yang dirasakan adanya saat dimilikinya.
Namun kesehatan’kebahagiaan serta kenikmatan yang dirasakan bagi seseorang itu adalah rejeki yang banyak orang lalai tak menyadarinya.

Apalagi mensyukuri,dan hakekat rejeki yang besar adalah rejeki nikmat iman islam dalam menjalani kehidupan yang membuahkan kebahagiaan dunia akhirat pada hakekatnya.

Adapun segala sesuatu yang pada kita baik secara materi harta benda dsb’tetapi tidak bisa menggunakan menikmatinya itu hakekatnya bukan rejeki kita’seperti uang yang hilang buat biaya berobat dsb.

Ikhtiar Usaha Dalam Mengubah Rejeki
-Besar kecilnya rejeki juga tergantung dari syariat sebuah usaha/pekerjaan profesi yang dijalani.

Semisal seperti seorang pedagang permen yang gak mungkin sama keuntungan persatunya dengan pedagang mobil.
Pekerja kuli bangunan yang gak mungkin sama besar gajianya dengan mandornya dsb.

Semuanya tergantung dari syariat yang diikhtiarkanya juga’itulah kenapa rejeki walau sudah pasti ada tetapi tidak dalam kepastian harus diikhtiarkan dipastikan dalam cara memperolehnya,kembali kepada sejauh mana seorang menyiapkanya,yang tak terlepas juga dari Kehendak’NYA.

Hijrah Profesi
Bisa juga berpindah profesi atau berhijrah ketempat lainya,apabila profesi yang dijalani memang kurang mencukupi untuk kebutuhan.

Dan berhijrah karena tempat tinggal buat usaha kurang berpotensi bagi diri seseorang,untuk menjalankan suatu usahanya dsb.

Maupun lebih baiknya beralih profesi menjadi wirausaha mungkin?karena 90% jalanya pendapatan rejeki ada diperdagangan(berdasar ada dalil yang menerangkan terlepas sahih tidaknya’kenyataanya jalur berwirausaha/perdagagangan adalah sayariat penyiapan wadah yang lebih besar dibandingkan penghasilan dari kerja yang sudah tertakar dengan gaji)tetapi perdagangan atau usaha yang bagaimana?

Perdagangan atau usaha yang pelakunya bisa menguasai apa yang didagangkan dari cara proses mengadakan dan cara proses memasarkan.

Dan jangan asal asalan usaha dagang dengan skala langsung besar yang tidak menguasai dibidangnya,karena bisa bangkrut mengenaskan juga.

Jika memang mau memulainya dimulai dari kecil kecilan sambil berproses melihat peluang lainya,sehingga resikonya lebih kecil apabila tidak lancar ditengah jalanya.

Dan tak bisa dipungkiri para pedagang besar atau pengusaha itulah yang menggerakan roda perekonomian suatu negara,dengan perdaganganya.

Bahkan pelakunya berpengaruh besar dalam roda pemerintahan suatu negara,makanya tak jarang para pemimpin atau pejabat negara berlatar belakang pengusaha/pedagang besar juga.

Jika untuk berpindah profesi dinilai lebih baik itu bisa dilakukanya,asalkan jika memang sudah jadi keahlianya tinggal mengembangkan meningkatkanya.
Jangan menyia-nyiakan umur dengan selalu bergonta ganti profesi,apalagi ikut ikutan yang bukan bidangnya jelas susah sulit untuk bisa sukses.

Rejeki Dari Hobi
Alangkah senang bersyukurnya jika seseorang mendapat penghasilan rejeki dari hobinya.

Semisal seseorang yang suka dengan peliharaan ternak lalu bisa mengembangkan dan menghasilkan,yang suka kuliner/makanan dengan usaha dagan rumah makanya,yang suka fashion dengan butiknya,yang suka menyanyi atau menulis dapat penghasilan dari karyanya dsb.

Sambil berprofesi menyalurkan hobi,dan itu suatu anugerah rejeki yang harus selalu disyukuri sebab banyak seseorang yang tak tersalurkan hobinya dalam sibuknya pekerjaan profesi yang dijalani.

Dan memang perlu diingat apapun profesi seseorang ingatlah rejeki itu adalah ghoib,penuh keajaiban yang kemudahanya juga tak terlepas dari faktor Ridhonya Sang pemberi rejeki.

Dan keridhoan Allah tak terlepas dari ridhonya kedua orang tua juga,dan berbakti kepadanya sama saja memanggil mengundang memudahkan rejeki yang mestinya banyak yang dari kita tau,tapi kadang lalai dengan berbagai kesibukan sendiri dsb.

Rejeki Juga Ghaib
Karena ajaibnya rejeki pemikiran seorang hamba juga berpengaruh terhadap rejekinya sendiri.

Contohnya dengan mensyukuri apa yang sudah didapatkan maka Allah SWT’akan menambahkan,dan maka itu kita memang jangan berfikir membayangkan kekayaan atau rejeki besar itu suatu kemustahilan?

Karena bisa membatasi diri dalam menerima rejekinya,dan bentuk suatu kurangnya keyakinan diri bahwa Allah Swt Maha kaya atas segalanya.

Dan Agama Islam memang menganjurkan penganutnya untuk bisa kaya,namun harus bisa menyikapi dalam kesederhanaanya’agar bisa membantu orang yang membutuhkan,bisa menyumbang pembangunan sarana ibadah,bisa naik haji,dsb.

Namun untuk bisa sedekah dsb,tak perlu menunggu kaya secara materi,karena sedekah itu luas mak’nanya dan berdasar kemampuan menurut keadaan sebisanya.

Dan tentunya dalam hal kekayaan adalah kekayaan yang bermanfaat bukan hanya bagi dirinya saja.

Namun diharapkan bisa bagi banyak umat,dan bukan kekayaan yang dicari dengan membabi buta’yang menghalalkan segala cara(?)

Melainkan kekayaan yang diusahakan dengan jalan yang dalam Ridho’NYA serta menggunakan membelanjakanya dijalan tuntunan’NYA.

Dan kekayaan itu penilaianya juga bukan hanya sebatas materi dan semua diukur dengan materi saja’melainkan kaya itu juga luas makna’nya,yang namun inti hakekatnya adalah bisa merasakan bahagia tanpa mengenal suatu keadaan apapun,baik ada maupun lagi gak secara materi maupun sebagainya.

Jangan Pasar Yang Gak Terarah
Dan semestinya juga kitag akan pasrah pada keadaan nasib rejeki yang masih kekurangan dalam mendapatkan.

Karena sama saja berputus asa dalam kemalasan’tetapi selalu berusaha walaupun selalu ditemani kegagalan,karena kegagalan itu sebenarnya proses untuk kemudahan pada apa yang akan dilakukan dikemudianya.

Dengan adanya kegagalan menambahkan pengalaman yang lebih baik kedepanya,dan bukankah pengalaman itu guru yang terbaik?

Jika sudah punya pengalaman maka kedepanya akan lebih tau mana yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukanya dalam bekerja/berwirausaha.

Sehingga untuk gagal lagi sangat kecil kemungkinanya,sebab sudah punya bekal pengalaman dari sebuah kegagalan sebelumnya.

Itulah makanya memang benar kata-kata yang tak asing bagi banyak orang kalau kegagalan itu adalah awalnya keberhasilan.

Semangat Untuk Perubahan Yang Lebih Baik
Jangan takut untuk memulai suatu usaha/pekerjaan jika niatnya ingin perubahan yang lebih baik.

Karena itu lebih baik dan meringankan pikiran dari angan angan,daripada hanya memikirkan dan meng’angankan terus(?)

Serta semestinya juga tak akan takut memulai yang baru,jika memang perlu,agar tak jadi juga beban berat dalam angan pikiran,ketika mau mencoba suatu usaha yang lebih baik dari usaha atau pekerjaan sebelumnya.

Asal niatnya baik dan dibarengi usaha keras,Insya Allah sambil berjalan pasti menemukan jalan kemudahan untuk menjemput kesuksesan.

Walau kadang bathin merintih dalam tangisan’yang tak bisa dipungkiri semua pasti mengalami dalam halnya.

Dan Orang yang berani memulai untuk perubahan yang lebih baik dalam hal rejeki walau gagal diproses awal,itu lebih baik.

Dan besar kemungkinan akan lebih sukses dalam rejekinya daripada orang yang belum memulai karena takut kegagalan.

Sebab jika memulai nantinya akan gagal dulu sebagai tahap proses awalnya,dan maka itu mulailah asal dengan kehati-hatian dan diiringi doa sebagai benteng untuk meminta perlindungan pada Yang Kuasa.

Mengubah Takdir Rejeki Dengan Ikhtiar Sedekah
Banyak bersedekah juga jadi suatu faktor upaya untuk memudahkan rejeki.

Karena bersedekah adalah amalan keajaiban,yang banyak mengundang/ mendatangkan kebaikan juga.

Baik dalam hal rejeki dsb,dan jika amalan sedekah belum bisa mengubah kerejekianya bisa juga khasiat manfaatnya berfungsi sebagai penolak bala bagi’nya maupun sebagai penebus kesalahan atas dosa,yang kemudian pasti akan memudahkan rejekinya juga.

Dan itu jadi suatu kepastian yang pasti akan dirasakan tanpa kata kapan(?)

Mungkin inilah sekelumit pembahasan tentang ikhtiar rejeki kali ini.

Mengenai Rejeki dan Perubahanya semoga jadi tolak ukur dalam mengikhtiarkanya serta saling doa bersama juga,semoga kita dipermudah selalu dalam urusan rejeki,baik berupa materi dsb’Aamiin.
Dan siapapun saudara apapun profesinya baik yang sedang mencari,yang sedang berusaha maupun yang sudah sukses dibidangnya?

Bisa juga berbagi tips untuk usaha meningkatkan rejeki maupun berbagi cara berwirausaha yang profesional dibidangnya pada siapapun juga termasuk dalam blog ini.

Karena perihal rejeki juga jadi ujian maupun cobaan hidup setiap orang’dan tentunya penyampaian ini tidak bermaksud untuk menggurui tentang mengenainya.

Tetapi berbagi penyampaian untuk saling mengingatkan dan juga saling mendoakan.
Semoga kita selalu diberi keberkahan juga dalam hal kerejekian dengan jalan dan cara yang Allah Swt kehendaki dan ridhoi dunia akhirat’Aamiin.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: