SyiAr Kajian

Kajian disini maksudnya menyampaikan kajian yang ringan,apa itu kajian ringan?kajian yang secara umum banyak orang bisa memahaminya,serta tidak menjadi perdebatan yang menjadikan selisih paham dsb.

Karena banyak juga kajian yang perlu dikaji khusus oleh ahlinya,dan tidak sembarangan untuk disampaikan begitu saja oleh yang belum paham,karena butuh pemahaman dalam mencernanya,semisal sembarang menyampaikan dalil hadist yang menerangkan suatu hal tapi diri sendiri tidak mengetahui maksud arti dari dalil tersebut’nah disini sangat tidak boleh untuk menyampaikanya.

Dan orang awam seperti kita-kita sebaiknya jangan terlalu sok menyampaikan berbagai dalil tanpa bisa sepenuhnya bisa menjelaskanya,termasuk menyampaikan dalil Alqur’an walau satu ayat jika salah itu sangat bahaya juga.

Maka itu lebih baik yang disampaikan kajianya daripada dalilnya,sebab yang lebih pantas menyampaikan dalil adalah para ulama/ahli agama yang bisa mengkajinya,sedangkan kita lebih baik menyampaikan kajianya saja.

Apa kajianya?yaitu buah dari makna arti pengkajian dalil tersebut,sebab kalau orang sembarang menyampaikan dalil tanpa bisa memakna artikan itu sangat membahayakan.

Semisal ada dalil:
“Sampaikanlah Dariku Walau Satu Ayat”

Bagi yang gak paham dan gak mengkaji/Mencernanya,tentunya akan banyak sekali ayat yang disampaikan,pada umat lainya tanpa lebih tau dulu makna isi kandunganya.

Karena walau tau satu ayat saja harus disampaikan/apalagi tau banyak ayat,sedangkankan menyampaikan satu ayat,yang jadi ilmu,akan dibalas satu ilmu itu dibalas 10 ilmu yang belum diketahui sebelumya.

Dan pahala yang menyampaikan ilmu itu,selain didoakan sesama juga didoakan makhluk lainya,dengan demikian bisa jadi juga sebab dalam memperoleh Ridho Allah SWT’.

MAKSUDnya adalah jika yang disampaikan satu ayat itu,yang terkaji yaitu yang menyampaikan dan yang disampaikan sama-sama bisa memahami makna arti dari apa yang disampaikan tersebut.

Semisal ada dalil sbb:
Didalam musnad Imam Bazzar,berupa hadist marfu:
“Barangsiapa duduk dan kencing menghadap kiblat,kemudian dia ingat dan memindahkan tubuhnya dari arah kiblat,karena memuliakan padanya,maka dia tidak akan berdiri dari tempatnya,sehingga diampuni dosa-dosanya.

(Kiranya bisa dipahami bagi siapa saja,bahwa memuliakan arah kiblat juga jadi sebab diampuni dosa yang ada pada kita’Aamiin).

Larangan Memotong Rambut Maupun Kuku Ketika Junub.

Al-Imam Ghazali berkata:
“Sebaiknya bagi orang yang dalam keadaan junub,tidak memotong kuku,tidak mengeluarkan darah dan tidak mengambil sesuatu dari tubuhnya,agar nanti dihari akhir tidak kembali dalam keadaan junub,ketika anggota tubuh itu dikemblaikan”.

(Jadi paham,kalau lagi berhadast besar itu bisa menghindari sesuatu yang dilarang).

Dan dalil hadist lainya yang tidak menimbulkan kontroversi dsb,semoga perihal ini juga bisa dicerna pada siapa saja dsb.

Penyampaian Dijaman Canggih
Jaman memang sudah canggih,yang segala informasi bisa disampaikan/didapatkan melalui internetan.

Padahal tidak semuanya boleh disampaikan/didapatkan melalui internet,semisal ilmu/amalan khusus yang tidak boleh disampaikan/maupun didapatkan begitu saja tanpa adanya bimbingan dari guru untuk dapat efek keberkahanya,dan hal ini sering sekali disampaikan diblog ini karena memang begitu perlu dan pentingnya.

Agar tak menyalahi dan tidak fatal akibatnya,sebab bisa merugikan diri sendiri,baik penyampainya maupun yang mendapatkannya,karena efeknya sangat tidak baik dengan segala ikhtiar yang sedang dilakukan.

Jika ingin menyampaikan ilmu harus paham dengan yang disampaikan,maupun harus paham dan mengerti juga serta agar mengkaji lagi bagi yang telah mendapatkan.

Kajian Itu Ibarat Nasi’Bukan Beras Maupun Gabah/Butir Padi
Jika ilmu itu bagaikan gabah/butir padi’maka orang itu makanya nasi bukan gabah/butir padi.

Jadi gak semua ilmu itu bisa langsung dikonsumsi/diterapkan dikehidupan tanpa pengkajian yang juga harus menyesuaikan berdasar keadaan,keadaan yang menyampaikan/yang mendapatkan/maupun keadaan dimana ilmu itu harus diterapkan/dijalankan dsb.

Dan untuk mengkaji ilmu/memproses padi biar jadi nasi dan bisa dikonsumsi itu perlu ada ahlinya,sehingga tidak menyalahi dan bisa dikonsumsi dengan proses yang baik.

Dengan adanya kajian pada ilmu,dengan demikian seseorang akan mengkonsumsi ilmu layaknya mengkonsumsi nasi dalam kebutuhan hidupnya/jadi kebutuhan pokok yang tentunya mau tidaknya akan butuh buat konsumsi untuk kelangsungan hidupnya.

Karena sifat ilmu adalah mengarahkan/menunjukan kemudahan dalam segala ikhtiar kehidupan,maka sampaikan/dapatkanlah apapun ilmunya agar yang sudah terkajikan.

Mungkin kiranya demikian sekelumit tentang SyiAr Kajian ini’Semoga penyampaian kajian ini juga manfaat serta jadi penambah refrensi juga dalam mengenai ilmu dan mengenai juga bagaimana mengkajikanya. 

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: