Tentang Mahar

A.TENTANG MAHAR

Mahar itu luas pengertian maknanya dan tak bisa disamakan dengan suatu hal dengan hal lainya,memahari berarti ingin memiliki’karena mahar bisa diartikan juga untuk mengganti sesuatu yang belum dimiliki dsb.

Dan memahari sesuatu yang ingin dimiliki tentunya berbeda-beda juga dalam hal ingin memahari,semisal memahari suatu pernikahan tak bisa disamakan dengan mahar suatu amalan/pengganti jasa lainya dsb’yang tentunya ada syarat/kesepakatan dan ketentuanya masing-masing.

B.PENGUMPAMA’AN MAHAR DIANTARANYA SBB :

1.Mahar dalam sebuah pernikahan

Mahar diumpamakan sebagai pengikat sah’nya suatu pernikahan dengan ketentuan-ketentuanya(dalam hal ini bisa dikajikan dibab khususnya).

2.Mahar jasa/upah

Mahar juga bisa diumpamakan sebagai pengganti jasa/upah dari suatu kegiatan,misalkan seorang dokter yang menentukan tarif bayar pasienya,seorang pengajar yang menentukan biaya les bimbingan pelajaranya/atau profesi lain yang berhubungan dengan jasa dsb.

Jadi mahar disini bisa diumpamakan atau diartikan sebagai pengganti/bayar jasa/menyesuaikan suatu keadaan dengan apa mahar yang berkaitan mengenainya.

3.Mahar Dalam Suatu Amalan’

Mahar disini berpengaruh besar bahkan jadi ruhnya khasiat pada amalan tersebut’ meskipun khasiat tersebut hanya mutlak Allah SWT’yang menghendakinya,lalu kenapa harus memahari pada yang menyampaikan amalan?

Karena sebenarnya seorang guru/penyampai ilmu/amalan sudah memaharinya’dengan apa?dengan gigihnya ikhtiar/usaha lahir bathinya selama berbulan bahkan bertahun baik itu dengan berpuasa disertai amalan wirid ratusan bahkan terkadang hingga ribuan kali dalam ikhtiarnya.

Sehingga apa yang diikhtiarkan jadi perantara dalam mendapatkan pertolongan dari Allah SWT’dalam hal yang diikhtiarkanya.

Nah maka dari itu ketika seseorang bersolusi minta amalan pada seorang kyai/penyampai ilmu tanpa mahar sama saja ingin kemudahan tanpa usaha dan doa.

Walau diamalkan dengan tirakat lahir bathinya’dengan menggunakan ilmu/amalan tanpa memaharinya ya percuma sia-sia yang hanya membahayakan jiwa lahir bathinya.


C.KEBERHASILAN TANPA MAHAR

Keberhasilan seseorang dalam segala ikhtiarnya’tanpa mahar adalah omong kosong dalam menjalankan kehidupanya.

Sebab kenapa?bukankah para pengusaha besar memaharinya dengan tanpa keputus’asaan dalam menjalani usahanya?

walau jatuh bangun bangkrut dalam melaluinya?

Bukankah seseorang yang berhasil dalam meraih cinta dan cita-citanya juga membayar mahar melalui perjuangan dan pengorbanan dengan sepenuh lahir bathinya(?)

Lalu apakah sesuatu yang dimahari pasti berhasil?ya pasti berhasil’jika terjadi kegagalanya adalah pelajaran awal buat menuju keberhasilanya.

Adapun ujian musiibah baik tertipu orang,dirugikan orang lain dalam mengikhtiarkanya adalah jadi sebuah penghapus dosa yang artinya mendekatkan kepada keberhasilan yang ingin dicapainya.

Jadi yang Kuasa ingin kita berhasil lahir bathin dalam hidup kita.

D.BENTUK MAHAR

Mahar itu tidak identik dengan materi bisa berupa benda lainya maupun keikhlasan dalam saling bantu dan doa dsb.

Misalkan seorang murid dapat ilmu/amalan dari seorang kyai itu juga sebenarnya seorang murid sudah memaharinya lewat pengabdian bersamanya.

Adapun mahar berupa saling bantu saja dan saling doa saja,biasanya ya sesama teman baik yang sudah saling bantu dan doa sebelumnya sehingga amalan dimahari dengan saling ikhlasnya.

Mengenai mahar berupa benda/materi itukan sah-sah saja’seumpama kita minta diajarkan sesuatu ya kita harus menghargai sesuatu tersebut dengan berupa yang ditentukan.

Atau kita harus lebih pengertian sebagai wujud penghargaan sesuatu tersebut’karena sesuatu apapun jika kita bisa menghargainya dengan sebaik mungkin’Insya Allah akan mudah dalam dapat khasiat manfaatnya.

Sebuah Kisah

Suatu saat Abu Sa’id Alkhudri ra’ketika diutus Rasulullah SAW’pada suatu peperangan dengan 30 pengendara dan tiba disuatu pemukiman.

Dan ketika itu ketua suku dari pemukiman tersebut tersengat kalajengking.

Maka ketua suku tersebut meminta pertolongan agar bisa terobatinya’dan Abu Sa’id Alkhudri mau menolongnya dengan agar memberi sesuatu pada rombonganya’ karena kaum dari kepala suku tersebut menolaknya sebagai tamu’.

Maka diberinya upah berupa 30kambing yang kemudian hal tersebut lalu disampaikan pada Rasulullah SAW’dan Beliau membolehkan atau menghalalkan pemberian tersebut.

(Adapun pengobatan yang dilakukan oleh Abu Sa’id Al Kudhri adalah berupa khasiat dari surat Alfatihah yang kemudian diberi 30kambing bersama rombonganya sebagai mahar dari pengobatan yang dilakukanya).

Salah seorang sahabat Nabi berkata:

“Aku telah mengambil upah atas Kitab Allah sehingga kami tiba di Madinah,Lalu sahabat yang lain berkata kepada Rasulullah,Dia telah mengambil upah melalui Alqur’an,Nabi pun berkata,sesungguhnya yang paling berhak kalian ambil upah adalah Kitab Allah”

(HR.Imam Ahmad,Bukkhori,Ibnu Abbas).

Dari keterangan tersebut jelas bahwa Rasulullah SAW’tidak melarang mahar bahkan membolehkanya.

Karena bentuk sebuah penghargaan dari suatu ilmu yang bermanfaat bagi kebaikan maupun kemudahan sebagai sarana pertolongan dalam suatu hal ikhtiar untuk kebaikan pada suatu keadaaan.

Jadi mengenai mahar jangan salah pengertian yang maksudanya untuk memberi pengahargaan atau menghormati/menjunjung tinggi suatu ikatan/jasa/ilmu/amalan karena semua terwujud dengan perjuangan pengorbanan lahir bathin dalam mengikhtiarkanya.

Maka dari itu ketika kita diberi ijazah mengamalkan sesuatu tanpa memaharinya adalah rejeki kita juga karena tanpa susah payah memperolehnya dan berterimakasihlah pada Allah SWT’atas Kehendak tersebut.

Namun ketika kita harus memahari suatu amalan ya juga atas Kehendaknya,agar kita memberi penghargaan atas suatu ilmu/amalan tersebut.

E.MEMAHARI ILMU

Segala sesuatu perlu ilmu karena ilmu memudahkan kehidupan,belajar ilmu juga harus pakai ilmu yaitu dengan guru.

Dan belajar lain-lainya baik itu ilmu dunia maupun ilmu akhirat segalanya perlu ilmu untuk kemudahan dan kebahagiaan hidup.

Dan hargailah ilmu dengan memaharinya agar ilmu mengahargaimu dengan dicari dan dipelajari dengan digurukan tentunya.


Rasulullah SAW Bersabda:

“Barang siapa meginginkan dunia maka dengan ilmu,barangsiapa menginginkan akhirat maka dengan ilmu,barangsiapa yang menginginkan dunia akhirat maka dengan ilmu”.

Jadi semua ada ilmunya agar mudah dan bahagia dalam hidup,baik dalam ikhtiar nyari rejeki/jodoh dsb.

Maupun ikhtiar dalam solusi piutang maupun mengusahakan kemajuan dalam usaha dsb.

Semuanya ada ilmunya’termasuk dalam menjalankan kewajiban agama juga semua perlu ilmu’sebagai tuntunan dalam menjalankan kehidupan.

Dan ilmu tak datang dengan sendirinya’melainkan buah dari pencarian serta gigihnya perjuangan lahir bathin sebagai mahar dalam memperolehnya.

Bagi yang sedang bertanya-tanya tentang mahar dan mau memaharkan suatu amalan mungkin penyampaian singkat ini bisa disampaikan kepada yang bersangkutan’sebagai refrensi kajian singkatnya,agar tidak salah paham dan salah dalam mengartikan tentang suatu mahar yang memang suatu keharusan.

Semoga penyampaian ini bermanfaat,saling mengkajikan,menyampaikan serta saling mendoakan baik agar semoga jadi amal kebaikan bersama yang diterima Allah SWT’Aamiin.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: